Hujan air mata t’lah membasahi pipiku
Mengalir tiada henti
Seakan tak pernah habis terkuras
Terus dan terus mengalir
Malam kian larut saja
Namun, nelangsa hatiku kian mengiris
Perih tersayat akan tingkah lakumu
Dulu kautuangkan madu cinta kepadaku
Begitu manis terasa di kalbu
Namun kini, itu semua t’lah sirna
Manisnya cinta yang kautuangkan
Kini telah hancur menjadi serpihan yang tak berarti
Tak ada lagi rasa manis itu
Hanya ada kepahitan yang membekas dihatiku
Dirimu tak pernah memahami
Arti dari tulusnya cinta di dalam hati
Hati yang berisikan madu cintamu
Cinta yang semu itu
Kini t’lah hancur
Sirna sudah cintaku untukmu
Kepercayaanku kepadamu sirna sudah
Mengalir tiada henti
Seakan tak pernah habis terkuras
Terus dan terus mengalir
Malam kian larut saja
Namun, nelangsa hatiku kian mengiris
Perih tersayat akan tingkah lakumu
Dulu kautuangkan madu cinta kepadaku
Begitu manis terasa di kalbu
Namun kini, itu semua t’lah sirna
Manisnya cinta yang kautuangkan
Kini telah hancur menjadi serpihan yang tak berarti
Tak ada lagi rasa manis itu
Hanya ada kepahitan yang membekas dihatiku
Dirimu tak pernah memahami
Arti dari tulusnya cinta di dalam hati
Hati yang berisikan madu cintamu
Cinta yang semu itu
Kini t’lah hancur
Sirna sudah cintaku untukmu
Kepercayaanku kepadamu sirna sudah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar