Rabu, 03 Juni 2015

Reza dan Cintanya

"Aha, ternyata kau pandai bermain kata. Sampai-sampai aku kuwalahan menghadapi sikapmu yang lumanyan ... plin-plan itu." Mata Reza melirik sinis ke ujung sudut kanan.

Ucapan itu sebenarnya ia tujukan pada gadis di depannya. Namun, suara tawa yang sadis membuatnya melirik sinis ke arah sudut itu.

"Terserah kamu, yang jelas aku mencintaimu. Tapi, maaf aku harus pergi dari hatimu, Reza." Dhifa berlalu begitu saja selesai mengungkapkan kata yang selama ini ingin ia ucapkan.

"Aiiiiz, itu cewek kenapa pula? Bilangnya cinta, tapi malah ngajak putus." Reza berbicara seorang diri, dan terdengar lagi suara tawa yang sekarang lebih besar dari yang tadi, "kau? Kenapa ketawa? Ada yang lucu?!"



"Ngomong sama saya?" Gadis berambut cepak itu mengangkat kepalanya dan memandang sosok lelaki yang berada tak jauh dari ia duduk.

"Bukan. Sama tembok. Yaeyalah sama elo."

"Mau baca novel ini? Ini lucu loh, ceritanya. Tentang cewek yang putusin cowoknya di tempat umum yang ramai dikunjungi oleh orang banyak. Tidak hanya itu, sangking galaunya itu cowok ngomong sendiri gitu. Makanya saya ketawa, hihihi." Sebuah novel disodorkan kepada lelaki yang kini duduk disampingnya, sembari ketawa jahil.

Novel yang hendak diambil itu, langsung ia simpan dalam tasnya. "Ups..., maaf saya harus pergi dulu. Sampai jumpa lagi, oh, iya, cowok itu nggak boleh cengeng."

Reza si cowok jangkung itu begitu geram melihat sikap gadis tomboi yang menertawakannya sedari tadi. Harinya begitu suram saat mentari hendak menggantikan bulan.

***
Reza belum ingin pulang, padahal hari sudah gelap. Ia singgah ke salah satu mall yang ada di kotanya sebelum hendak pulang ke rumah malam ini.

Matanya menyapu ke seluruh tempat yang ada. Seakan-akan mencari sesuatu yang ia perlukan. Dan akhirnya ia berhenti memandang pada satu titik. 'Asem ni cewek.' Gurutu Reza dalam hati.

"Aa..., ternyata ini toh alasan kamu minta putus sore tadi." Mata Reza mengamati lelaki yang berada di samping Dhifa, "kau memang pintar bermain kata, Dhifa."

Dhifa yang begitu kaget melihat sosok Reza tak mampu berkata-kata. Hanya langkah kaki tergesa-gesa ia lakukan sembari menarik tangan lelaki yang berada di sampingnya.

"Bukankah itu, Reza pacarmu, Dhif?" Lelaki berambut sedikit panjang itu bertanya pada Dhifa.

"Ya," Dhifa menarik napas panjangnya, "mungkin ini lebih baik untuknya, Bang."

"Kenapa nggak jujur saja padanya? Kalau begini, kan, kamu juga yang sedih." Lelaki itu cukup mengerti akan keadaan adiknya yang sematawayang itu.

Dhifa memang sangat mencintai Reza. Tetapi penyakitnya itu yang membuat ia harus pisah dengan lelaki yang amat sangat ia cintai.

Reza yang hendak mengejar Dhifa tertahan hanya karena melihat gadis tomboi yang ia jumpai sore tadi. Kenapa pula hari ini? Dua kali bertemu orang yang membuat hatinya marah, Dhifa dan gadis tomboi itu.

"Itu kan, cewek yang mutusin kamu tadi?" Gadis itu bertanya tanpa sungkan. "Kasiannya, ternyata kamu diselingkuhin, ya."

"Diam. Nggak usah ikut campur urusan orang!" Reza berlalu begitu saja.

Hari ini memang hari yang sulit bagi Reza. Putus dengan cewek yang telah lama ia pacarin membuat hatinya merana. Tidak biasanya Reza begini, dulu pun ia pernah diputusin tapi tidak sesakit ini.

***

Dua bulan kemudian.
"Kamu? Pacarnya Dhifa, kan?" Reza bertanya pada lelaki yang menemuinya.

"Gracia? Kamu Gracia, kan?" Lelaki itu berbalik tanya sembari memandang lekat ke arah gadis tomboi di sebelah Reza.

"Hmm, kau kenal dengan pacarku, Gracia?!" Reza memandang keduanya dengan bergantian.

"Pacar?" Suatu ucapan dari Reza yang membuat lelaki itu sedikit kaget, "ah, iya, saya jumpai kamu karena ada hal yang ingin saya sampaikan--dan buat kamu juga, Gracia."

"Apa?" Tanya Reza.

"Pertama, saya bukan pacarnya, Dhifa, melainkan Abang kandungnya. Kedua, Dhifa sangat mencintai kamu, Reza. Dan ketiga, dia telah tiada."

Reza tak mampu mencerna perkataan lelaki di depannya ini. Rasanya seperti mimpi.

"Ah, satu lagi. Makasih buat kamu, Gracia." Gadis tomboi yang bernama Gracia itu diam membatu.

"Kalian saling kenal, Sayang?" tanya Reza.

"Dia gadis yang tadinya hendak saya nikahi. Tapi, sekarang sudah tidak." Lelaki itu berlalu dengan santainya meninggalkan mereka berdua.

Reza yang dibingungkan dengan kehadiran lelaki yang tadinya ia kira selingkuhan Dhifa, hanya mampu diam tanpa kata. Marah, dan sidih bercampur aduk menjadi satu.

"Maafkan aku." Gracia si gadis tomboi itu sangat pandai berperan, dan kini ia menyesalinya.


Banda Aceh ^-^, 21`5`15

Tidak ada komentar: