Minggu pagi, saat aku mebuka jendela kamarku udara sejuk menghampiri diriku. Hembusan angin pagi terasa begitu dingin hari ini, kulihat pepohonan masih basah karena hujan semalam. Walau sekarang bulan januari, tetapi hujan masih saja turun membasahi bumi.
Mentari dengan indahnya menyinari bumi, sepertinya hari ini alam akan cerah---mudah-mudahan saja. Aku yang sedari tadi sudah bangun ingin keluar untuk menghirup udara yang segar. Pagi ini begitu indah untuk dilewatkan. Kulalui jalan setapak yang ada di depan rumahku. Hari masih terlalu pagi ternyata, namun cerahnya cahaya mentari telah mampu untuk aku melihat sekelilingku.
Bunga di taman rumah tetanggaku begitu indah, sepertinya baru mekar! Harum mewanginya pun terhirup lembut olehku. Kumbang-kumbang dengan asiknya merayu bunga di kala itu. Ah, bunga itu membuatku iri. Aku hanya jalan seorang diri pagi ini, biasanya ditemani Laras adikku.
“Hai, cantik... sendiri aja ni! Adik imutnya mana?” tiba-tiba suara yang hadir dari belakangku mengagetkanku.
“Eh, Abang Iyan, masih tidur dia Bang!” jawabku semabri memberi sekulimut senyum kepada Bang Iyan tetanggaku.