“Nah, lagi ngelamunin apa itu Lala....” suara bang Khalis mengagetkanku.
“Ih... Abang ini kagetin aja” seruku sambil membenahi kerudungku.
“Mau kopi nggak ni?”
“Boleh juga bang, dibawakan kemari ya....”
Sambil aku menunggu kopi bawaan bang Khalis, aku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. Hari ini sangat melelahkan bagiku, seharian di depan komputer membuat aku lelah. Ya, mau bagaimana lagi ini sudah tuntutan pekerjaanku.
“Ini anak satu asik melamun saja, ini kopinya!” katanya sambil menyodorkan cangkir yang berisikan kopi untukku.
“Abang ini selalu kagetin Lala lah,” jawabku manja sambil mengambil cangkir yang diberikannya.
Dengan sekejap ia telah pergi, tak ada pamitan langsung keluar begitu saja. Tinggallah aku sendiri dengan secangkir kopi pemberiannya itu. Dan aku langsung menyerumput isi cangkir itu tanpa ragu.
“Huh.... Gila, pahit sangat. Ini kopi atau apa sih,” cerocosku tak karuan, untung saja nggak ada orang saat itu.
Dengan ragu-ragu aku meminumnya kembali, sebenarnya aku tak suka pahit. Aku sejak kecil sudah merasakan yang namanya kopi, dan setiap kopi yang kuminum rasanya manis nggak seperti ini pahitnya. Tapi enak juga rasanya pahit-pahit gini, ada rasa tersendiri yang membuat aku ingin mencoba dan mencoba lagi untuk menyerumputnya kembali.
Kopi tidaklah asing bagiku dan kotaku. Ya, sebuah kota di ujung sumatra, Aceh namanya. Sejak kecil aku selalu minum kopi dengan keluargaku.
“Ngapain Lala, serius banget liatin komputernya itu,” tegur bang Putra sambil duduk di sampingku.
“Bang putra gimana sih, pasti kopinya abang yang beli, kan?” sewotku yang mengalihkan pembicaraannya.
“Iya, emangnya kenapa? Oh... Lala minum kopi juga ya!” jawabnya santai.
“Kenapa pahit gini sih bang, emangnya nggak ada gula ya?”
“Hehehehe... Kami kan biasanya juga minum kopi pahit Lala, mana tahu kalau Lala ikutan minum”
“Abang ini, Lala kan mau juga. Mana haus lagi, kenapa nggak dikasih tahu dulu kopinya pahit atau manis gitu biar nggak kaget minumnya.”
“Emangnya siapa yang kasih itu kopi?”
“Bang khalis, tapi enak kok bang kopinya. Ada sensasi gimana gitu, hehehehe...”
“Bagus dong kalau begitu, jadi kenapa sewot gitu ngomongnya.”
“Kopinya bikin kaget bang, sama dengan yang kasih, selalu bikin Lala kaget. Huh....”
Walau pahit namun membuat aku terus dan terus mencobanya, secangkir kopi pahit yang membuat aku penasaran untuk menghabiskannya. Sore nan indah itu terasa lebih nikmat di saat aku ditemani oleh secangkir kopi dan seseorang yang sedari tadi duduk di sebelahku. Serasa lengkap sudah dan lelah itu pun kini telah sirna.
“Ih... Abang ini kagetin aja” seruku sambil membenahi kerudungku.
“Mau kopi nggak ni?”
“Boleh juga bang, dibawakan kemari ya....”
Sambil aku menunggu kopi bawaan bang Khalis, aku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. Hari ini sangat melelahkan bagiku, seharian di depan komputer membuat aku lelah. Ya, mau bagaimana lagi ini sudah tuntutan pekerjaanku.
“Ini anak satu asik melamun saja, ini kopinya!” katanya sambil menyodorkan cangkir yang berisikan kopi untukku.
“Abang ini selalu kagetin Lala lah,” jawabku manja sambil mengambil cangkir yang diberikannya.
Dengan sekejap ia telah pergi, tak ada pamitan langsung keluar begitu saja. Tinggallah aku sendiri dengan secangkir kopi pemberiannya itu. Dan aku langsung menyerumput isi cangkir itu tanpa ragu.
“Huh.... Gila, pahit sangat. Ini kopi atau apa sih,” cerocosku tak karuan, untung saja nggak ada orang saat itu.
Dengan ragu-ragu aku meminumnya kembali, sebenarnya aku tak suka pahit. Aku sejak kecil sudah merasakan yang namanya kopi, dan setiap kopi yang kuminum rasanya manis nggak seperti ini pahitnya. Tapi enak juga rasanya pahit-pahit gini, ada rasa tersendiri yang membuat aku ingin mencoba dan mencoba lagi untuk menyerumputnya kembali.
Kopi tidaklah asing bagiku dan kotaku. Ya, sebuah kota di ujung sumatra, Aceh namanya. Sejak kecil aku selalu minum kopi dengan keluargaku.
“Ngapain Lala, serius banget liatin komputernya itu,” tegur bang Putra sambil duduk di sampingku.
“Bang putra gimana sih, pasti kopinya abang yang beli, kan?” sewotku yang mengalihkan pembicaraannya.
“Iya, emangnya kenapa? Oh... Lala minum kopi juga ya!” jawabnya santai.
“Kenapa pahit gini sih bang, emangnya nggak ada gula ya?”
“Hehehehe... Kami kan biasanya juga minum kopi pahit Lala, mana tahu kalau Lala ikutan minum”
“Abang ini, Lala kan mau juga. Mana haus lagi, kenapa nggak dikasih tahu dulu kopinya pahit atau manis gitu biar nggak kaget minumnya.”
“Emangnya siapa yang kasih itu kopi?”
“Bang khalis, tapi enak kok bang kopinya. Ada sensasi gimana gitu, hehehehe...”
“Bagus dong kalau begitu, jadi kenapa sewot gitu ngomongnya.”
“Kopinya bikin kaget bang, sama dengan yang kasih, selalu bikin Lala kaget. Huh....”
Walau pahit namun membuat aku terus dan terus mencobanya, secangkir kopi pahit yang membuat aku penasaran untuk menghabiskannya. Sore nan indah itu terasa lebih nikmat di saat aku ditemani oleh secangkir kopi dan seseorang yang sedari tadi duduk di sebelahku. Serasa lengkap sudah dan lelah itu pun kini telah sirna.