Selasa, 22 Oktober 2013

Secangkir Kopi Pahit

“Nah, lagi ngelamunin apa itu Lala....” suara bang Khalis mengagetkanku.
“Ih... Abang ini kagetin aja” seruku sambil membenahi kerudungku.
“Mau kopi nggak ni?”
“Boleh juga bang, dibawakan kemari ya....”

Sambil aku menunggu kopi bawaan bang Khalis, aku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. Hari ini sangat melelahkan bagiku, seharian di depan komputer membuat aku lelah. Ya, mau bagaimana lagi ini sudah tuntutan pekerjaanku.

“Ini anak satu asik melamun saja, ini kopinya!” katanya sambil menyodorkan cangkir yang berisikan kopi untukku.
“Abang ini selalu kagetin Lala lah,” jawabku manja sambil mengambil cangkir yang diberikannya.
Dengan sekejap ia telah pergi, tak ada pamitan langsung keluar begitu saja. Tinggallah aku sendiri dengan secangkir kopi pemberiannya itu. Dan aku langsung menyerumput isi cangkir itu tanpa ragu.
“Huh.... Gila, pahit sangat. Ini kopi atau apa sih,” cerocosku tak karuan, untung saja nggak ada orang saat itu.

Dengan ragu-ragu aku meminumnya kembali, sebenarnya aku tak suka pahit. Aku sejak kecil sudah merasakan yang namanya kopi, dan setiap kopi yang kuminum rasanya manis nggak seperti ini pahitnya. Tapi enak juga rasanya pahit-pahit gini, ada rasa tersendiri yang membuat aku ingin mencoba dan mencoba lagi untuk menyerumputnya kembali.
Kopi tidaklah asing bagiku dan kotaku. Ya, sebuah kota di ujung sumatra, Aceh namanya. Sejak kecil aku selalu minum kopi dengan keluargaku.

“Ngapain Lala, serius banget liatin komputernya itu,” tegur bang Putra sambil duduk di sampingku.
“Bang putra gimana sih, pasti kopinya abang yang beli, kan?” sewotku yang mengalihkan pembicaraannya.
“Iya, emangnya kenapa? Oh... Lala minum kopi juga ya!” jawabnya santai.
“Kenapa pahit gini sih bang, emangnya nggak ada gula ya?”
“Hehehehe... Kami kan biasanya juga minum kopi pahit Lala, mana tahu kalau Lala ikutan minum”
“Abang ini, Lala kan mau juga. Mana haus lagi, kenapa nggak dikasih tahu dulu kopinya pahit atau manis gitu biar nggak kaget minumnya.”
“Emangnya siapa yang kasih itu kopi?”
“Bang khalis, tapi enak kok bang kopinya. Ada sensasi gimana gitu, hehehehe...”
“Bagus dong kalau begitu, jadi kenapa sewot gitu ngomongnya.”
“Kopinya bikin kaget bang, sama dengan yang kasih, selalu bikin Lala kaget. Huh....”

Walau pahit namun membuat aku terus dan terus mencobanya, secangkir kopi pahit yang membuat aku penasaran untuk menghabiskannya. Sore nan indah itu terasa lebih nikmat di saat aku ditemani oleh secangkir kopi dan seseorang yang sedari tadi duduk di sebelahku. Serasa lengkap sudah dan lelah itu pun kini telah sirna.

Tak Bisakah Aku Dengannya

Malam itu.... Saat aku dan kamu di pertemukan
Saat sapaan indah pertama kali hadir untukku
Rasa itu langsung ada
Rasa dimana aku telah bahagia

Kau buat aku ketawa
Kau buat aku tersenyum manja
Kau buat aku selalu rindu
Kau buat aku selalu mengingatmu

Kini senyum itu telah tergantikan
Hanya kesedihan yang ada
Air mata telah menggantikannya
Oh Tuhan.... Aku merindukannya

Hati ini telah kuberikan untuknya
Dan dia yang pertama mengungkapkannya
Harapan itu....
Ya, harapan itu ternyata hanya harapan kosong yang di berikan

Salahkah aku mencintaimu
Aku rindu denganmu
Aku cinta kepadamu
Itu katamu.....

Ya Allah....
Kenapa harus begini
Dia baik denganku
Tapi kenapa dia juga yang telah membuat air mata ini mengalir

Tak bisakah cinta ini bersatu
Tak bisakah hati ini bahagia seutuhnya
Tak bisakah aku tertawa dengan bahagianya
Tak bisakah aku dengannya

Itu Isi Hatiku

Mungkin itu hanya sebuah kata
Ya, itu memang sebuah kata
Sebuah kata yang tak bermakna bagimu
Tapi aku, itu sangat berarti untukku

Rangkaian kata yang kurangkaikan untukmu
Rangkaian kata yang hadir dari hatiku
Bait demi bait kurangkaikan
Hanya untukmu

Itu isi hatiku
Itulah ungkapan hatiku untukmu
Tapi apa? Kata itu tak ada artinya bagimu
Aku mencoba mengungkapkan isi hatiku
Melalui jemariku kuungkapkan semua itu

Tapi sayang hanya aku yang merasakannya
Sedangkan dirimu tak mau mengerti
Bahkan tak akan pernah mengerti
Dari sebuah bait yang penuh akan makna di jiwa

Salahkah Aku Mencintaimu

Diammu membuatku pilu
Diammu membuatku tersakiti
Sapaanmu begitu berarti
Sapaanmu itu yang ku mau

Aku bukanlah siapa-siapa darimu
Namun dirimu kini ada di hatiku
Salahkah bila aku mencintaimu
Berdosakah aku yang telah merindukanmu

Ingatlah di saat kita bertemu
Malam itu....
Ya, malam itu dirimu menemaniku
Ayat itu, ayat itu dirimu lantunkan untukku

Salahkah aku mencintaimu
Salahkah aku....
Aku hanya ingin sapaan darimu
Bukan hatimu yang enggan kauberikan itu