Cintaku untukmu bagaikan beningnya permata, yang selalu
memancarkan kilauan asmara membuat hatiku tak mampu melupakanmu. Malam-malamku
selalu dihiasi akan bayanganmu: cantik, manis, berambut panjang yang menawan.
“Aku harus memilikimu,” batinku. Hari-hariku selalu mencari tahu
tentangmu, sampai akhirnya aku tahu siapa namamu, Nada Naqilla.
Rasa rindu yang amat kejam telah menyayat hatiku, darah amarah kini
telah mengalir bak air bah menghantam ribuan rumah.
“Inikah arti cintaku kepadanya? Yang hanya mampu dibalas dengan
bisu semata? Aku harus memilikimu, Nada! Harus....!” jeritku dalam kalbu.