Cintaku untukmu bagaikan beningnya permata, yang selalu
memancarkan kilauan asmara membuat hatiku tak mampu melupakanmu. Malam-malamku
selalu dihiasi akan bayanganmu: cantik, manis, berambut panjang yang menawan.
“Aku harus memilikimu,” batinku. Hari-hariku selalu mencari tahu
tentangmu, sampai akhirnya aku tahu siapa namamu, Nada Naqilla.
Rasa rindu yang amat kejam telah menyayat hatiku, darah amarah kini
telah mengalir bak air bah menghantam ribuan rumah.
“Inikah arti cintaku kepadanya? Yang hanya mampu dibalas dengan
bisu semata? Aku harus memilikimu, Nada! Harus....!” jeritku dalam kalbu.
Nada, gadis cantik itu telah mencuri hatiku, dan ia juga mempermainkan
aku. Namun, dia hanya diam bagaikan patung yang tak bernyawa. Apa aku harus
membuat dia menjadi patung beneran? Agar dia mengerti akan perasaanku
kepadanya.
Sore itu, aku menghampirinya. Wajahnya yang begitu anggun membuatku semakin cinta.
Sore itu, aku menghampirinya. Wajahnya yang begitu anggun membuatku semakin cinta.
“Hai, cantik. Nada, kan?” sapaku dengan sekelumit senyum
untuknya.
“Ya, anda siapa?” jawabnya.
Tanpa banyak cerita, aku bekap dia dengan saputanganku yang
bercampur ‘kloroform’ menyengat.
Kubopong dia, kerumahku yang tak jauh dari situ. Kubaringkan dia
di dipan kayu tua dan aku siapkan peralatan kerjaku. Sementara itu, tubuhnya sudah
terikat.
Tidak membutuhkan
waktu lama, kini Nada sudah sadarkan diri, kepalanya yang berat, dan matanya
berkunang-kunang. Dia melihat sosok yang tak dikenalinya, ia ingin bangkit namun
apa daya, ada tali yang kini melilit tubuhnya.
“Lepaskan aku! Siapapun kamu tolong jangan buat aku seperti ini!
Apa salahku padamu?” jerit Nada yang baru sadar itu.
“Kamu tahu apa arti dari cinta, Nada?” tanyaku sembari mengelus
rambut lembutnya.
“Kamu tahu, apa arti dari rasanya rindu yang hanya mampu
menyayat hati?” Nada hanya mampu menangis.
“Aku ingin pulang....” gumamnya.
“Arrgghh... kau tak boleh pergi kemanapun. Kau milikku
sekarang!” kataku penuh marah.
“Apa maumu? Apa salahku? Kenapa kau menyakitiku?” Nada bertanya dengan marahnya.
“Apa maumu? Apa salahku? Kenapa kau menyakitiku?” Nada bertanya dengan marahnya.
“Hahaha..., mauku kau menjadi kekasihku, karena kau telah
mencuri hatiku, dan kau telah menghancurkan hatiku.”
“Apa yang akan kau lakukan kepadaku? Inikah bukti cinta kau
kepadaku?” Nada bertanya dengan mata penuh binar.
“Ya, ini semua karena engkau tak mau mencintaiku, Nada!” kataku sembari
mendekatinya dengan membawakan hadiah untuknya.
Adukan semen
yang bercampurkan pasir itu menjadi hadiah untuk dirinya yang kucinta,
berlahan-lahan kuoleskan ditubuhnya. Dari ujung kaki hingga keseluruh tubuhnya,
dengan lembutnya aku oleskan semen itu, yang kini sudah setengah tubuhnya. Dia
meronta-ronta tanda tak terima akan perlakuanku, airmatanya mengalir bagaikan
air bah saja. Rambutnya yang terurai sedikit menutupi wajah anggunnya.
Aku tuangkan
seluruh adukan itu ketubuhnya, baju kemejanya yang berwarna putih kini telah
berubah warnanya. Aku rapikan rambutnya yang terurai itu, dan aku bersihkan
airmatanya. Dia hanya diam saja, mungkin dia telah pasrah dengan apa yang sudah
aku perbuat untuknya.
Semen itu
kini telah sampai di lehernya, namun aku tidak berhenti sampai di situ! Kulihat
matanya terpejam, aku tak tahu apa yang kini dia rasakan. Kini dari kaki hingga
kepalanya telah kumelumuri semen, tidak hanya kepala, telinganya pun menjadi
sasaran. Hanya wajah anggunnya yang tersisa, aku rapikan sedemikan rupa hingga
wajahnya masih indah untuk dipandang mata.
Kini Nada
telah terdiam untuk selamanya, dan aku bahagia. Namun kusadari, cintaku
kepadanya tetap saja tak bisa dimiliki. Mungkin, inilah takdirku.
Banda Aceh, 28 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar