Sabtu, 23 November 2013

Dia Yang Rela Merebut Suamiku

Cahaya rembulan menemaniku, di saat hatiku sedang pilu, hati sendu menahan cemburu, walau aku tahu cintamu hanya untukku. Dua tahun sudah dirimu pergi bersamanya, walau sebenarnya aku tak rela, tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. “Mas, kenapa dirimu tega meninggalkanku. Hanya karena dia, dirimu rela meninggalkanku.” Bisikku dalam kalbu.

Butiran air mata telah membasahi pipiku, rasa rindu kini menghampiriku. Begitu jahatnya dia yang rela merebut suamiku, apa sih maunya... mengapa aku yang harus menjadi korbannya. Aku tahu dia bisa memberi segalanya, tapi, tidak harus dengan merebut suamiku!

Malam kian larut, membuatku teringat kembali kepada suamiku. Ya, malam itu. Tepatnya di hari selasa malam rabu, dua tahun yang lalu. Aku yang sedang mengandung tiga bulan, hanya mampu menangis di kamarku.



“Sudahlah Sayang, jangan bersedih lagi,” bujuk suamiku sembari merangkulku. “Hapus air matamu, kasihan anak kita Sayang.”
“Mas, tidak mengerti. Aku sedang mengandung anakmu Mas!”
“Iya, aku tahu. Sudahlah Sayang.”
Aku yang hanya mampu menangis akhirnya merelakan kepergiannya, dalam keadaanku yang sedang hamil muda itu.
“Bunda... bunda....” suara yang tak asing itu telah mengagetkanku.
“Iya, Sayang.” Kataku sembari mendekatinya dan mengendongnya. Ya, anakku kini telah berumur satu tahun sembilan bulan. Sudah bisa berjalan dan berbicara itu kuberi nama, Muhammad Khalis Syahputra.
“Bunda, kata bunda Ayah besok pulang, kan?” tanyanya sembari memelukku erat-erat.
“Iya, besok anak bunda yang satu ini bangun cepat ya....!” kataku sambil mencium keningnya.

Pukul 07:30 WIB. Aku dan anakku Khalis kini sedang menunggu kehadiran sosok yang sangat aku rindukan. Sembari menunggu aku membersihkan rumahku yang sebenarnya tidak kotor itu. Aku melihat Khalis sangat bahagia, walapun dia masih terlalu kecil. Namun, rasa rindu akan hadirnya seorang Ayah sangat terasa di hatinya.

“Tok... Tok...Tok....!!!” suara pintu mengagetkanku, “Assalamu’alaikum,” suara itu memberi salam kepadaku.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku, sembari membuka pintu. “Mas, ini kamu Mas....!” lanjutku sembari menyalaminya dan memeluknya.
“Anak kita. Mana anak kita Sayang.”
“Mas, Jangan pernah dirimu meninggalkanku lagi. Aku tak ingin Mas!” Kataku sembari membawa Khalis dalam pelukannya. “Pekerjaanmu yang dulu memisahkanku denganmu, Mas. Aku tak ingin lagi pisah denganmu.”

Tidak ada komentar: