Indahnya ombak laut itu, menari-nari dengan lembutnya. Batu karang itu pun tak enggan di terjang ombak yang terkadang mampu menyakitinya. Senja kini hampir tiba, aku masih setia menunggu di sini. Jingga senja hampir menampakkan diri, namun aku belum juga beranjak dari tempatku. Aku masih setia menunggu kehadirannya. Ya, dirinya yang membuat hatiku menahan rindu bertahun-tahun lamanya.
Kini sang bulan telah menggantikan sinarnya mentari, namun diriku masih di sini. Ada rasa kecewa di hatiku, bukannya semalam ia katakan akan datang menghampiriku. Hembusan angin itu semakin terasa di tulang ini, baju jaketku tak mampu menghalangi hembusan angin malam itu. Aku yang sedari tadi siang di sini masih saja setia menunggu, karena kuyakin dirinya pasti datang menghampiriku.
Sekian tahun dirinya meninggalkanku, demi sekolahnya di luar Kota membuatku harus menahan rindu kepadanya. Dirinya yang kucinta, kini membuatku harus menahan dinginnya malam. Tapi, itu tidak seberapa dengan rasa sakitku menahan rindu yang bertahun-tahun lamanya.
“Nisa, ayuk kita pulang. Tidak baik di sini sendirian,” sapa Fira yang entah sejak kapan dia berada di sampingku. “Lagian ini sudah larut malam, nanti kamu sakit Sa....”
Air mata ini akhirnya tumpah juga, yang sedari tadi aku mencoba untuk menahannya.
“Sudah, hapus saja air matamu itu!” Lanjutnya.
“Ra..., aku sangat merindukannya Ra! Lima tahun dia meninggalkanku, dan selama itu juga dia tidak pernah memberi kabar kepadaku.” Kataku sembari memeluk sahabatku itu.
“Mungkin dia punya alasan, mengapa seperti itu kepadamu Nisa.”
“Andai saja kau tahu Bang Khalis....” Gumamku lirih.
***
“Saaaa...Nisa....” Fira yang setengah berlari menghampiriku. “Nisa, Bang khalis Sa... Bang Khalis Sa!”
“Iya, kenapa dengan Bang Khalis Ra? Ada apa dengannya? Katakan padaku Ra!” Jawabku panik tak karuan.
“Ma’afkan aku Nisa, aku yang memberi tahu dirimu malam itu untuk berjumpa dengan Khalis di pantai Sa, dan aku yang membuat surat itu untukmu” Suara Bang Ikram membuatku lemas. “Sa..., sebenarnya Khalis sudah lama meninggal. Sudah satu tahun dia telah kembali kepada Yang Maha Kuasa.” Lanjutnya sembari memegangku yang hampir saja jatuh.
Tidak kusangka orang yang selama ini kurindukan ternyata telah tiada.
Kini sang bulan telah menggantikan sinarnya mentari, namun diriku masih di sini. Ada rasa kecewa di hatiku, bukannya semalam ia katakan akan datang menghampiriku. Hembusan angin itu semakin terasa di tulang ini, baju jaketku tak mampu menghalangi hembusan angin malam itu. Aku yang sedari tadi siang di sini masih saja setia menunggu, karena kuyakin dirinya pasti datang menghampiriku.
Sekian tahun dirinya meninggalkanku, demi sekolahnya di luar Kota membuatku harus menahan rindu kepadanya. Dirinya yang kucinta, kini membuatku harus menahan dinginnya malam. Tapi, itu tidak seberapa dengan rasa sakitku menahan rindu yang bertahun-tahun lamanya.
“Nisa, ayuk kita pulang. Tidak baik di sini sendirian,” sapa Fira yang entah sejak kapan dia berada di sampingku. “Lagian ini sudah larut malam, nanti kamu sakit Sa....”
Air mata ini akhirnya tumpah juga, yang sedari tadi aku mencoba untuk menahannya.
“Sudah, hapus saja air matamu itu!” Lanjutnya.
“Ra..., aku sangat merindukannya Ra! Lima tahun dia meninggalkanku, dan selama itu juga dia tidak pernah memberi kabar kepadaku.” Kataku sembari memeluk sahabatku itu.
“Mungkin dia punya alasan, mengapa seperti itu kepadamu Nisa.”
“Andai saja kau tahu Bang Khalis....” Gumamku lirih.
***
“Saaaa...Nisa....” Fira yang setengah berlari menghampiriku. “Nisa, Bang khalis Sa... Bang Khalis Sa!”
“Iya, kenapa dengan Bang Khalis Ra? Ada apa dengannya? Katakan padaku Ra!” Jawabku panik tak karuan.
“Ma’afkan aku Nisa, aku yang memberi tahu dirimu malam itu untuk berjumpa dengan Khalis di pantai Sa, dan aku yang membuat surat itu untukmu” Suara Bang Ikram membuatku lemas. “Sa..., sebenarnya Khalis sudah lama meninggal. Sudah satu tahun dia telah kembali kepada Yang Maha Kuasa.” Lanjutnya sembari memegangku yang hampir saja jatuh.
Tidak kusangka orang yang selama ini kurindukan ternyata telah tiada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar