“Nda… aku tak ingin menikah dengannya!” kata Irzha kepada ibunya. “Bunda, tahu sendiri kan, dia itu bagaimana!”
“Iya, Irzha. Bunda tau, tapi, Amar telah berubah, Nak!” ucap bunda.
***
Hari semakin senja, Amar yang hendak ke surau merasa hatinya begitu gelisah, ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin. Tapi, kemana? Hidup ini sudah tidak ada artinya lagi baginya. Semenjak kejadian itu, di saat ia tahu bahwa dirinya positif terkena virus mematikan itu.
“Tunggu apalagi kamu Mar!” ucap Ilham, abangnya itu.
“Tidak, aku hanya teringat akan Irzha, Bang.” Kata Amar kepada abangnya.
“Minggu depan kau akan menikah, tersenyumlah!” lanjut Ilham sembari berjalan menuju surau.
Tak terasa, bulan kini telah menggantikan mentari. Ilham yang sudah pulang sedari tadi hanya meninggalkan Amar seorang diri di surau. Sekian menit sudah ia di situ, entah apa yang ia pikirkan, hanya ia dan Allah yang tahu.
Air mata itu kini telah membasahi pipinya, rasa sakit itu tidak seberapa dengan rasa penyesalannya terhadap apa yang sudah ia lakukan selama ini. Sikap keduniawinya membuat ia jauh dari agama, begitu banyak dosa yang tercipta dan sekarang di saat virus itu menyerang tubuhnya, baru ia merasa menyesal.
***
Irzha adalah gadis yang ia cintai sejak SMA dulu. Irzha juga mencintai Amar. Tapi, semenjak ia tahu akan keburukan Amar, rasa cintanya itu telah terbagikan pada Ilham abangnya Amar.
Hari ini tepat di hari pernikahan Amar dan Irzha. Walaupun Irzha dengan terpaksa menerimanya. Amar tahu, betapa bencinya Irzha kepadanya. Namun, Amar bahagia bisa bersandingkan cinta pertamanya.
Akad nikah pun berlangsung dengan begitu sederhana. Air mata mengalir dari keduanya, entah itu air mata bahagia atau bukan.
***
Di malam pertama, mereka hanya diam. Amar tahu betapa sengsaranya hati wanita yang baru dinikahinya itu.
“Irzha, kemarilah Sayang. Jangan kautakut kepadaku, aku tak akan menyakitimu!” ucap Amar.
“Aku tak mau! Aku tak mau tertular penyakit hina itu!” jawab Irzha dengan begitu marahnya.
“kemarilah Irzha, aku suamimu yang hanya ingin bicara denganmu.” Lanjut Amar.
Dengan rasa takut Irzha menghampiri Amar, yang sedari tadi duduk di atas ranjang barunya itu.
“Irzha, aku tahu betapa bencinya kamu kepadaku. Maafkan aku yang tak pernah mendengar perkataanmu. Ada hal yang perlu kau tahu, dirimulah cinta pertamaku, Irzha! Terima kasih kau mau menerima aku sebagai suamimu.” Kata Amar sembari menatap lesuh istrinya itu, “Irzha, bila aku telah tiada, maukah kamu memaafkanku? Tak hanya itu, bila aku telah tiada, maukah kau bersanding dengan Bang Ilham? Aku tak mau kau bersedih karenaku, aku tahu semenjak aku mengidap penyakit mematikan ini, kau telah mencintai Ilham, abangku!” Irzha hanya mampu terdiam, rasa sedih ada dihatinya.
Malam kian larut, Amar belum bisa menutup matanya. Ia melihat istrinya tertidur di atas ranjang yang indah itu. Jarum jam terus berputar, suara azan shubuh sudah sedari tadi terdengar. Amar yang sudah mengerjakan shalat, akhirnya tertidur juga.
Hari telah pagi, Irzha yang baru saja bangun melihat suaminya tertidur pulas di atas sajadahnya itu.
“Bang Amar, bangun sudah pagi!” kata Irzha, “Abang, bangun!” Amar hanya terdiam, tidak bergerak sama sekali. “Abang Amaaar….” Teriaknya, saat di liat denyut nadinya ternyata Amar telah tiada.
“Iya, Irzha. Bunda tau, tapi, Amar telah berubah, Nak!” ucap bunda.
***
Hari semakin senja, Amar yang hendak ke surau merasa hatinya begitu gelisah, ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin. Tapi, kemana? Hidup ini sudah tidak ada artinya lagi baginya. Semenjak kejadian itu, di saat ia tahu bahwa dirinya positif terkena virus mematikan itu.
“Tunggu apalagi kamu Mar!” ucap Ilham, abangnya itu.
“Tidak, aku hanya teringat akan Irzha, Bang.” Kata Amar kepada abangnya.
“Minggu depan kau akan menikah, tersenyumlah!” lanjut Ilham sembari berjalan menuju surau.
Tak terasa, bulan kini telah menggantikan mentari. Ilham yang sudah pulang sedari tadi hanya meninggalkan Amar seorang diri di surau. Sekian menit sudah ia di situ, entah apa yang ia pikirkan, hanya ia dan Allah yang tahu.
Air mata itu kini telah membasahi pipinya, rasa sakit itu tidak seberapa dengan rasa penyesalannya terhadap apa yang sudah ia lakukan selama ini. Sikap keduniawinya membuat ia jauh dari agama, begitu banyak dosa yang tercipta dan sekarang di saat virus itu menyerang tubuhnya, baru ia merasa menyesal.
***
Irzha adalah gadis yang ia cintai sejak SMA dulu. Irzha juga mencintai Amar. Tapi, semenjak ia tahu akan keburukan Amar, rasa cintanya itu telah terbagikan pada Ilham abangnya Amar.
Hari ini tepat di hari pernikahan Amar dan Irzha. Walaupun Irzha dengan terpaksa menerimanya. Amar tahu, betapa bencinya Irzha kepadanya. Namun, Amar bahagia bisa bersandingkan cinta pertamanya.
Akad nikah pun berlangsung dengan begitu sederhana. Air mata mengalir dari keduanya, entah itu air mata bahagia atau bukan.
***
Di malam pertama, mereka hanya diam. Amar tahu betapa sengsaranya hati wanita yang baru dinikahinya itu.
“Irzha, kemarilah Sayang. Jangan kautakut kepadaku, aku tak akan menyakitimu!” ucap Amar.
“Aku tak mau! Aku tak mau tertular penyakit hina itu!” jawab Irzha dengan begitu marahnya.
“kemarilah Irzha, aku suamimu yang hanya ingin bicara denganmu.” Lanjut Amar.
Dengan rasa takut Irzha menghampiri Amar, yang sedari tadi duduk di atas ranjang barunya itu.
“Irzha, aku tahu betapa bencinya kamu kepadaku. Maafkan aku yang tak pernah mendengar perkataanmu. Ada hal yang perlu kau tahu, dirimulah cinta pertamaku, Irzha! Terima kasih kau mau menerima aku sebagai suamimu.” Kata Amar sembari menatap lesuh istrinya itu, “Irzha, bila aku telah tiada, maukah kamu memaafkanku? Tak hanya itu, bila aku telah tiada, maukah kau bersanding dengan Bang Ilham? Aku tak mau kau bersedih karenaku, aku tahu semenjak aku mengidap penyakit mematikan ini, kau telah mencintai Ilham, abangku!” Irzha hanya mampu terdiam, rasa sedih ada dihatinya.
Malam kian larut, Amar belum bisa menutup matanya. Ia melihat istrinya tertidur di atas ranjang yang indah itu. Jarum jam terus berputar, suara azan shubuh sudah sedari tadi terdengar. Amar yang sudah mengerjakan shalat, akhirnya tertidur juga.
Hari telah pagi, Irzha yang baru saja bangun melihat suaminya tertidur pulas di atas sajadahnya itu.
“Bang Amar, bangun sudah pagi!” kata Irzha, “Abang, bangun!” Amar hanya terdiam, tidak bergerak sama sekali. “Abang Amaaar….” Teriaknya, saat di liat denyut nadinya ternyata Amar telah tiada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar