Kamis, 28 November 2013

Bersandingkan Cinta Pertama

“Nda… aku tak ingin menikah dengannya!” kata Irzha kepada ibunya. “Bunda, tahu sendiri kan, dia itu bagaimana!”
“Iya, Irzha. Bunda tau, tapi, Amar telah berubah, Nak!” ucap bunda.

***
Hari semakin senja, Amar yang hendak ke surau merasa hatinya begitu gelisah, ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin. Tapi, kemana? Hidup ini sudah tidak ada artinya lagi baginya. Semenjak kejadian itu, di saat ia tahu bahwa dirinya positif terkena virus mematikan itu.

“Tunggu apalagi kamu Mar!” ucap Ilham, abangnya itu.
“Tidak, aku hanya teringat akan Irzha, Bang.” Kata Amar kepada abangnya.
“Minggu depan kau akan menikah, tersenyumlah!” lanjut Ilham sembari berjalan menuju surau.

Sabtu, 23 November 2013

Yang Selama Ini Kurindukan"

Indahnya ombak laut itu, menari-nari dengan lembutnya. Batu karang itu pun tak enggan di terjang ombak yang terkadang mampu menyakitinya. Senja kini hampir tiba, aku masih setia menunggu di sini. Jingga senja hampir menampakkan diri, namun aku belum juga beranjak dari tempatku. Aku masih setia menunggu kehadirannya. Ya, dirinya yang membuat hatiku menahan rindu bertahun-tahun lamanya.

Kini sang bulan telah menggantikan sinarnya mentari, namun diriku masih di sini. Ada rasa kecewa di hatiku, bukannya semalam ia katakan akan datang menghampiriku. Hembusan angin itu semakin terasa di tulang ini, baju jaketku tak mampu menghalangi hembusan angin malam itu. Aku yang sedari tadi siang di sini masih saja setia menunggu, karena kuyakin dirinya pasti datang menghampiriku.

Dia Yang Rela Merebut Suamiku

Cahaya rembulan menemaniku, di saat hatiku sedang pilu, hati sendu menahan cemburu, walau aku tahu cintamu hanya untukku. Dua tahun sudah dirimu pergi bersamanya, walau sebenarnya aku tak rela, tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. “Mas, kenapa dirimu tega meninggalkanku. Hanya karena dia, dirimu rela meninggalkanku.” Bisikku dalam kalbu.

Butiran air mata telah membasahi pipiku, rasa rindu kini menghampiriku. Begitu jahatnya dia yang rela merebut suamiku, apa sih maunya... mengapa aku yang harus menjadi korbannya. Aku tahu dia bisa memberi segalanya, tapi, tidak harus dengan merebut suamiku!

Malam kian larut, membuatku teringat kembali kepada suamiku. Ya, malam itu. Tepatnya di hari selasa malam rabu, dua tahun yang lalu. Aku yang sedang mengandung tiga bulan, hanya mampu menangis di kamarku.

Rasa Rindu

Hembusan angin malam temanilah aku
Bulan purnama terangilah malam ini
Agar aku tak sendiri
Agar aku tak takut akan malam yang kelam itu

Detingan jarum jam berputar tanpa henti
Seakan ia tau akan kesendirianku ini
Ia pun menemaniku dalam sepi
Air mata ini tak terbendung lagi

Menetes membasahi pipi
Rasa itu ternyata sangat menyusuk hati
Rasa yang tak dapat ku obati
Rasa rindu yang menggebu di jiwa ini

Seandainya saja kau ada disini
Seandainya saja kau tak pergi
Seandainya saja kau mau memahami
Mungkin air mata ini
Akan tergantikan dengan senyuman yang penuh arti

Kamis, 21 November 2013

Entahlah Aku Tak Mengerti

Aku rindu kepadamu; iya itu memang benar nyatanya
Aku ingin menyapamu; tapi aku tak mampu
Aku selalu memikirkanmu; aku tak bohong dengan semua itu
Tapi, kini kaumenjauhi diriku

Aku tak mengerti kenapa begitu
Kau lebih memilih pergi dari pada menyapaku
Cuek, itu yang selalu kauberikan kepadaku
Di saat aku ingin menjauhimu

Ingin melupakanmu
Dirimu hanya diam membisu
Lebih tepatnya kau menjauh
Entahlah aku tak mengerti

Aku lebih suka kaumemaki
Lebih suka kaumemarahi
Bukan diam dengan seribu bahasa
Bukan juga cuek seakan aku tak ada

Rinduku Berteman Sunyi

Semilir angin malam menyelimuti rinduku
Rindu yang kini kian pilu
Pilu akan rasa di kalbu

Rinduku berteman sunyi
Hampa tak ada yang mengobati
Angin inginku bertanya kepadanya
: "Rindukah kau kepadaku?"

Namun, kepada siapa aku harus bertanya
Aksaraku tak mampu memanggilnya
Hanya rindu yang kurasa di jiwa
Rindu yang tak pernah ada penawarnya

Sabtu, 09 November 2013

Akukah Ini?

Tak ada lagi pepuisi hari ini
Sang pena tak 'kan pernah lagi menari
Kertas putih itupun kini telah terganti;
Putih bersih sang kain pengantar diri

Pucat pasi
Dingin membeku kaki
Mata tertutup tak bersinar lagi
: Akukah ini?

Terbaring kaku tak bernyawa
Bibir beku tak mampu untuk tertawa
Alangkah malangnya tak mampu bersua
Mungkin inilah takdir Yang Maha Kuasa