Minggu pagi, saat aku mebuka jendela kamarku udara sejuk menghampiri diriku. Hembusan angin pagi terasa begitu dingin hari ini, kulihat pepohonan masih basah karena hujan semalam. Walau sekarang bulan januari, tetapi hujan masih saja turun membasahi bumi.
Mentari dengan indahnya menyinari bumi, sepertinya hari ini alam akan cerah---mudah-mudahan saja. Aku yang sedari tadi sudah bangun ingin keluar untuk menghirup udara yang segar. Pagi ini begitu indah untuk dilewatkan. Kulalui jalan setapak yang ada di depan rumahku. Hari masih terlalu pagi ternyata, namun cerahnya cahaya mentari telah mampu untuk aku melihat sekelilingku.
Bunga di taman rumah tetanggaku begitu indah, sepertinya baru mekar! Harum mewanginya pun terhirup lembut olehku. Kumbang-kumbang dengan asiknya merayu bunga di kala itu. Ah, bunga itu membuatku iri. Aku hanya jalan seorang diri pagi ini, biasanya ditemani Laras adikku.
“Hai, cantik... sendiri aja ni! Adik imutnya mana?” tiba-tiba suara yang hadir dari belakangku mengagetkanku.
“Eh, Abang Iyan, masih tidur dia Bang!” jawabku semabri memberi sekulimut senyum kepada Bang Iyan tetanggaku.
Pagi ini ternyata aku tidak sendiri, aku ditemani oleh lelaki tampan yang tak asing bagiku. Bang Iyan, adalah anak tertua dari keluarga Om Dani yang tinggal tak jauh dari rumahku. Dari kecil aku selalu bermain dengannya, umurku dengannya hanya beda tiga tahun saja. Dia tidak mempunyai adik perempuan, makanya dia suka sekali dengan adikku Laras yang kini masih duduk di bangku SD.
Sinar mentari kini telah terasa menyengat, panasnya sudah terasa membakar kulit. Aku dan Bang Iyan ternyata jauh juga berjalan kaki pagi ini, tidak terasa kami telah sampai di taman yang ada di ujung jalan.
“Bang Iyan, semalam ke mana tu... sama cewek, gandengan lagi! Hehehe...” nyindirku sambil ketawa kecil untuknya.
“Hust... anak kecil ini ya, suka sekali ikut campur urusan orang!” katanya becanda.
“Eh, Bang. Kenalin dong pacarnya sama adikmu ini! Naila kan ingin tahu juga,” ucapku yang sedari tadi duduk dengannya di bangku taman.
“Nanti ya, Nai! Kita pulang yuk, udah siang ni... belum makan lagi!” lanjutnya.
“Ayuk....” kataku sembari meninggalkan taman bunga yang indah itu.
***
Jam menunjukkan pukul 3:00 WIB, aku yang lagi bermalas-malasan dikagetkan oleh suara guntur yang kuat. Astaga, tadi pagi begitu cerahnya sekarang malah hujan. Dengan cepatnya aku berlalri ke luar rumah untuk mengangkat jemuranku yang kebanyakan masih basah itu. Sesaat aku sedang mengambil pakaianku tiba-tiba ada yang membantuku untuk mengambil sebagian pakaianku yang ada. Aku melihat siapa yang menolongku itu, ternyata Bang Iyan.
Tubuhku yang terkena air hujan membuatku basah kuyup, tidak hanya aku---Bang Iyan juga. Sembari aku menggantikan pakaianku, aku menyuruh Laras untuk memberikan anduk kecil untuk Bang Iyan. Waktu itu orang tuaku sedang pergi ke tempat saudara, aku hanya tinggal berdua saja dengan Laras.
“Om Iyan, ini anduknya,” kata Laras sembari memberi anduk kepadanya.
“Makasih, Dedek imut...Om Iyan ada coklat buat Dedek imut, Mau ngga!” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Mau... mau... mau...” kataku dengan semangatnya.
“Coklatnya untuk Dedek imutlah, bukan untukmu Cantik!” lanjutnya.
“Iya, ni Kak Naila. Coklatnya kan buat Laras! Kalau Kak Naila mau, beli aja sana di toko kan banyak tu!” ucap Laras yang membuat hatiku jengkel.
“Naila ini, seperti anak kecil aja suka coklat umur sudah 25 loh...” kata Bang Iyan sembari mengeluarkan coklat dari sakunya.
Bang Iyan, semenjak kelahiran Laras dia selalu datang ke rumahku. Keluargaku dan keluarganya sudah seperti saudara. Aku pun sudah menganggapnya seperti Abangku sendiri, walau sebenarnya aku punya hati padanya. Aku tidak pernah merasakan yang namanya pacaran, beda dengan Bang Iyan aku sering lihat dia pergi jalan-jalan dengan perempuan. Semenjak aku masih SMA dulu, dia lumanyan banyak disukai khususnya perempuan.
Langit masih saja menangis, begitu derasnya airmata yang ditumpahkan sore ini. Aku yang kini berada di teras depan rumah hanya bisa menyaksikan rinainya hujan sore itu. Seakan-akan aku sedang menunggu, menunggu redanya hujan saat itu. Karena aku tahu, setelah hujan turun pastinya akan ada warna warni yang indah di langit sana---pelangi.
Aku selalu menunggu sang pelangi saat hujan menghampiri, namun terkadang itu hanya akan sia-sia bagiku. Pelangi yang indah itu terkadang enggan untuk menampakkan dirinya padaku. Saat hujan turun membasahi bumi, aku selalu ingat akanku, yang selalu menunggu datangnya pendamping hidup.
“Aku merindukan pendamping hidupku, Tuhan!” gumamku.
“Cie... cie... ada yang kebelet nikah ni kayaknya, hehehe...” Bang Iyan mengagetkanku.
“Apaan sih...” kataku cemberut dan sedikit malu.
“Nai, liat deh ada pelangi tu...” katanya sembari memandang wajahku.
“Mana pelangi? Hujannya aja belum berhenti, gimana ada pelangi sih, Bang!” kataku heran.
“Itu, di matamu ada pelangi,” katanya sembari tersenyum manis.
Wajahku memerah, malu dibuatnya. Hujan pun kini telah reda, Bang Iyan pun pamit pulang. Hari minggu ini begitu menyenangkan bagiku, pagi-pagi sudah ditemani oleh orang yang kucintai, sorenya pun ditemani olehnya.
Aku memang telah lama memendam rasa kepada Bang Iyan, namun aku tidak berani mengungkapkannya. Karena ia terlalu baik untukku, lagian kami sudah seperti saudara. Namun harus bagaimana, aku telah jatuh cinta kepadanya. Dia selalu ada untukku, di saat aku sedih maupun senang ia selalu ada menemani. Saat hujan tiba dia pun sering menemaniku, mungkin hujan telah menjadi saksi bisu diantara kami berdua.
***
Malam telah tiba, hujan kini telah reda. Aku sempat kecewa karena tidak menemukan pelangi sore ini. Aku yang sedang asik melihat TV, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Dengan cepatnya aku membuka pintu rumahku, dan ternyata yang datang Bang Iyan. Tetapi dia tidak sendiri, ia di temani oleh kedua orang tuanya om Dani dan tante Dian.
“Malam, Cantik...” sapanya sembari menyubit pipiku di depan kedua orang tuanya.
“Ih, Bang Iyan ini, malu tau dilihatin sama Om dan Tante,” kataku salah tingkah.
“Mamanya mana, Nak,” tanya tante Dian yang kini telah duduk di sofa rumahku.
“Ada di dalam, Tante! Sebentar ya, Naila buatkan minum,” ucapku sembari berlalu.
Mama yang sedang istirahat di kamar, ternyata sudah menunggu kedatangan Bang Iyan dan keluarganya.
“Bagaimana, Mbak! Sudah kasih tahu sama Naila?” tanya tante Dian kepada Mama.
“Sudah, Mbak,” jawab mama.
Kini di ruang tamu telah terkumpul dua keluarga, aku tidak tahu maksud kedatangan mereka. Namun, hatiku bertanya-tanya. Ada apa gerangan ya?
“Naila, om Dani dan keluarganya datang ke sini untuk melamarmu, Nak,” kata Mama, yang mengejutkan hatiku.
Mataku memandang tajam ke arah Bang Iyan yang hanya tersenyum itu. Lalu mataku beralih menatap mata Mama yang juga menyunggingkan senyuman yang penuh arti.
“Naila, Tante ke sini untuk melamar Naila, untuk anak tante yang ini, Iyan! Apa Naila mau terima?” tanya tante Dian.
Aku tidak menyangka akan kejadian malam ini, sosok yang kucinta selama ini adalah penantianku. Orang yang selama ini kutunggu-tunggu ternyata selalu ada di sampingku.
***
Senin sore, hujan masih saja membasahi bumi di bulan januari ini. Hatiku yang masih tak percaya akan kejadian semalam hanya bisa tersenyum bahagia. Sesaat pandanganku tertuju pada sosok yang tak asing bagiku---Bang Iyan. Ia sekarang berada tepat di hadapanku, dengan sebuah payung yang ia gunakan untuk melindunginya dari derasnya hujan saat itu.
“Cantik, pasti lagi nunggu pelangi muncul kan!” katanya yang tak salah lagi itu.
“Iya,” kataku datar sembari memberinya sekulit senyum termanisku.
“Nai, Abang mau ngomong sama kamu!” lanjutnya.
“Ngomong apa. Bang?” tanyaku.
“Sebenarnya, Abang telah lama menyukaimu. Namun Abang tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya, makanya Abang nyuruh Mama dan Papa untuk melamarmu, Nai!” ucapnya menjelaskan.
“Bang Iyan, sebenarnya Nai juga suka sama Abang, tapi Nai takut kasih tahunya,” kataku sembari menatam lembut kedua bola matanya.
“Nai, liat tu ada pelangi!” katanya menyakinkanku.
“Ngga percaya, nanti malah ngegombal lagi,” ucapku cemberut.
“Beneran, Nai, coba deh liat ke depan sana tu di langit sana!” dia menyakinkanku lagi.
Hujan memanglah sudah reda, sore itu hujannya tak lama membasahi bumi. Aku melihat ke arah langit yang ada di depanku, ternyata memang iya, ada pelangi di sana. Pelangi yang selalu kutunggu kini muncul juga. Warnanya yang indah terasa tak bosan untuk melihatnya.
Pendamping hidupku yang selama ini kutunggu pun kini telah hadir menemaniku, tepat berada di sampingku aku melihat indahnya pelangi bersamanya---pujaan hatiku. Tidak menyangka, akan takdir cinta, dan kini aku bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar