Selasa, 28 Oktober 2014

Pandangan Pertama

“Yan, Gue ada kenalan baru ni, cewek. Cantik banget loh, seksi lagi!” kata Agus kawanku.
“Mana, Gus!” jawabku.
“Itu...” lanjutnya sambil menunjukkan ke arah gadis yang berada tak jauh dari kami duduk. “Namanya, Susan.”
“Gila, cantik bener tuh cewek! Makan apa dia kok bisa secantik itu!” ucapku sambil tak lepas memandang sang gadis yang rupawan itu.

Sore itu, aku dan Agus seperti biasa duduk di pinggiran jalan. Sambil cuci mata,---liat cewek-cewek cantik lewat gitu---maklum tidak ada kerjaan.
Kebetulan aku saat ini lagi jomblo, jadi, ya, ngga masalah dong kalau aku deketin itu gadis! Aku yang tidak kalah gantengnya sama Dude Herlino, dengan santainya mendekati gadis itu. Hatiku sempat berdebar-debar, mana Agus ga ikutan pergi lagi! Dengan percaya dirinya aku mendekati sang gadis. Garis senyumnya, amboi... manisnya.

Minggu, 26 Oktober 2014

Hanya Hati

Cemburu. Cemburu itu terkadang membuatku gila. Dia dengan seenaknya bersua ria bersama mereka, tanpa pernah tahu akan perasaanku padanya. Mata melirik, telinga mendengar. Suara tertahan bagaikan batu yang tak bisa bersua. Hati ini sakit tertahan. Begitu banyak teriakkan yang tak pernah terdengar---hati berbicara, hati menangis. Hanya hati. Ya, hanya hati.


Gila sudah aku ini, menyimpan semua duka yang hanya di hati. Aksaraku pun tak ada arti, walau telah beribu-ribu kata terukir hanya untuknya. Ah, sialnya aku. Sudah lidah ini kaku. Aksara pun tak mampu membuatnya melirik kepadaku. Gila sudah aku. Cinta. Rindu. Cemburu. Itu semua hanya menjadikan hatiku berteriak tak ada arti. Tangisan pun tak 'kan nampak dari diriku---karena aku selalu tersenyum manis untuknya.

B. Aceh, 251014

Aku dan Kamu



Aku dan kamu begitu dekat
Sedekat kertas putih dan pena
Aku semakin terpikat
Di kala kau menyapa dengan indahnya aksara

Aku dan kamu begitu dekat
Sedekat mentari dan awan yang berarak
Aku semakin terperanjat
Di kala kau memberiku lingkaran kecil berlapiskan perak

Kini, aku dan kamu semakin dekat
Di kala ijab kabul telah terucap
Aku semakin  berharap
Agar cinta kita terus saja terikat



Banda Aceh, 26102014 

Jumat, 24 Oktober 2014

Akan Kembali Lagi

Lembayung senja begitu indah
Jingganya sangat menawan
Hati resah memanglah gundah
Mengingat kisah penuh akan kenangan

Senja hilang menggantikan malam
Malam kelam tanpa bebintang
Rinduku semakin mendalam
Namun, sayang penawarnya tak kunjung datang

Rindu-rindu si putih salju
Akankah meleleh saat mentari menyapu
Begitu besarnya cintaku kepadamu
Tak mampukah kau menghargaiku

Walau 'ku tahu cintamu semu
Aku akan tetap setia menunggu
Senja itu akan kembali lagi
Dan aku dapat memandang jingga kembali


By: Triena Akasara, 221014

Minggu, 19 Oktober 2014

Sang Perindu



Aku adalah sang perindu
Rinduku hanya untukmu
Dirimu yang telah mencuri hatiku
Hatiku yang pernah kau rayu
Rayuanmu mampu menghanyutkanku
Hanyut bagaikan terbang ke langit ketujuh

Aku adalah sang perindu
Rinduku hanya untukmu
Dirimu yang kini telah menjauh
jauh sejauh dunia nyataku bersamamu

Aku adalah sang perindu
Rinduku kepadamu kini t’lah membuatku sendu
Sendu hanya karena kita tak mampu bertemu
Bertemu denganmu yang hanya di dunia selalu
Dan itu selalu membuatku jemu

Aku adalah sang perindu
Rinduku selalu untukmu
Walaupun aku tahu
Dirimu tak pernah ada untukku



Banda Aceh, 20 Juni 2014

Jumat, 10 Oktober 2014

TRIENA*




Tiada kisah yang  bisa kulupakan
Rindu itu terus saja mengingatkan
Ingin rasanya aku melupakan
Entah bagaimana caranya akan kulakukan
Namun, apadaya hatiku telah hancur oleh kenangan
Andai saja waktu itu aku tak kautinggalkan


B. Aceh, 9-10-2014