“Yan, Gue ada kenalan baru ni, cewek. Cantik banget loh, seksi lagi!” kata Agus kawanku.
“Mana, Gus!” jawabku.
“Itu...” lanjutnya sambil menunjukkan ke arah gadis yang berada tak jauh dari kami duduk. “Namanya, Susan.”
“Gila, cantik bener tuh cewek! Makan apa dia kok bisa secantik itu!” ucapku sambil tak lepas memandang sang gadis yang rupawan itu.
Sore itu, aku dan Agus seperti biasa duduk di pinggiran jalan. Sambil cuci mata,---liat cewek-cewek cantik lewat gitu---maklum tidak ada kerjaan.
Kebetulan aku saat ini lagi jomblo, jadi, ya, ngga masalah dong kalau aku deketin itu gadis! Aku yang tidak kalah gantengnya sama Dude Herlino, dengan santainya mendekati gadis itu. Hatiku sempat berdebar-debar, mana Agus ga ikutan pergi lagi! Dengan percaya dirinya aku mendekati sang gadis. Garis senyumnya, amboi... manisnya.
“Maaf, Susan, ya?” tanyaku.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia iyakan dengan anggukkan kecil serta menyunggingkan senyum manisnya. Ah, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama ini. Sikapnya yang malu-malu menjadikan aku tambah bersemangat untuk mendekatinya.
“Dek Susan, mau ngga ikut abang jalan-jalan! Kita ke sana, mau ngga?” ajakku sembari menunjukan taman kecil yang ada di seberang jalan sana.
Seperti yang tadi, dia pun hanya menganggukkan kepalanya sembari mengikuti langkah kakiku. Tanganku dan tangannya bersentuhan saat berjalan, lalu aku berinisiatif untuk menggandeng tangannya. Sambil berjalan menyeberangi jalan aku dan dia bagaikan kekasih yang begitu mesranya.
“Dek Susan, makan apa sih? Kok cantik banget ya!” kataku sembari mencuri-curi pandang dengannya. “Dek, coba deh Adek Susan liatin taman ini, banyak bunga yang cantik-cantik, harum lagi! Sama seperti kamu.”
Dia hanya senyum-senyum melihat tingkahku, yang mungkin sudah mulai mengeluarkan “tanduk” gombalnya.
“Mungkin Dek Susan ini, Ayahnya tukang kebun ya?” tanyaku sambil mengedipkan mataku kepadanya.
Aduhai... ia membalas kedipan matanya, sembari menganggukkan kepalanya dan tak lupa akan senyuman mautnya.
“Oh, pantesan Dek Susan seperti bunga yang ada di sini, mewangi sepanjang hari.” Lanjutku.
Lumayan lama aku bersama dengannya, namun aku belum dengar sakalipun suaranya. Jadi, bosan juga kalau kayak gini terus!
“Adek, Sakit? Apa sariawan? Atau sakit gigi ya?!” tanyaku mulai jenuh.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, namun senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya yang cantik itu.
“Terus, kalau ngga sakit kenapa hanya diam aja? Bisu ya?” kataku sambil memegang tangan halusnya.
Susan masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya, bingung juga aku. Cantik-cantik kok cuma bisa angguk-angguk, geleng-geleng sama senyum doang ya!
“Susan, ngomong dong! Bosan juga Abang kalau Susan kayak gini terus!” kataku sewot.
Matanya menatap mataku begitu tajam, seakan ia ingin berkata namun sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
“Iya, Bang, Abang ganteng deh....” Alamak, suaranya.
Wajahnya cantik, senyumannya aduhai manisnya, kulit tangannya begitu halus terasa, dan ... dan suaranya aduh, suaranya kenapa suaranya membuat aku ingin lari.
“Aguuuuuuuuuuuuus... awas Lo, ya, kenapa banci Lo kasih ke Gue, Asem dah Lo....” teriakku sambil mengejar-ngejar Agus yang sedari tadi ketawa melihat tingkahku.
Apesnya aku hari ini, dikerjain hidup-hidup sama si Agus. Mana sialnya lagi, aku kejar si Agus lah akunya di kejar sama itu banci sambil teriak-teriak.
“Abang Iyaaaaaaaan, jangan tinggalin Dek Susan dong....”
“Susan apanya, Susanto iya kali.”
Banda Aceh, 29/1/2014
“Mana, Gus!” jawabku.
“Itu...” lanjutnya sambil menunjukkan ke arah gadis yang berada tak jauh dari kami duduk. “Namanya, Susan.”
“Gila, cantik bener tuh cewek! Makan apa dia kok bisa secantik itu!” ucapku sambil tak lepas memandang sang gadis yang rupawan itu.
Sore itu, aku dan Agus seperti biasa duduk di pinggiran jalan. Sambil cuci mata,---liat cewek-cewek cantik lewat gitu---maklum tidak ada kerjaan.
Kebetulan aku saat ini lagi jomblo, jadi, ya, ngga masalah dong kalau aku deketin itu gadis! Aku yang tidak kalah gantengnya sama Dude Herlino, dengan santainya mendekati gadis itu. Hatiku sempat berdebar-debar, mana Agus ga ikutan pergi lagi! Dengan percaya dirinya aku mendekati sang gadis. Garis senyumnya, amboi... manisnya.
“Maaf, Susan, ya?” tanyaku.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia iyakan dengan anggukkan kecil serta menyunggingkan senyum manisnya. Ah, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama ini. Sikapnya yang malu-malu menjadikan aku tambah bersemangat untuk mendekatinya.
“Dek Susan, mau ngga ikut abang jalan-jalan! Kita ke sana, mau ngga?” ajakku sembari menunjukan taman kecil yang ada di seberang jalan sana.
Seperti yang tadi, dia pun hanya menganggukkan kepalanya sembari mengikuti langkah kakiku. Tanganku dan tangannya bersentuhan saat berjalan, lalu aku berinisiatif untuk menggandeng tangannya. Sambil berjalan menyeberangi jalan aku dan dia bagaikan kekasih yang begitu mesranya.
“Dek Susan, makan apa sih? Kok cantik banget ya!” kataku sembari mencuri-curi pandang dengannya. “Dek, coba deh Adek Susan liatin taman ini, banyak bunga yang cantik-cantik, harum lagi! Sama seperti kamu.”
Dia hanya senyum-senyum melihat tingkahku, yang mungkin sudah mulai mengeluarkan “tanduk” gombalnya.
“Mungkin Dek Susan ini, Ayahnya tukang kebun ya?” tanyaku sambil mengedipkan mataku kepadanya.
Aduhai... ia membalas kedipan matanya, sembari menganggukkan kepalanya dan tak lupa akan senyuman mautnya.
“Oh, pantesan Dek Susan seperti bunga yang ada di sini, mewangi sepanjang hari.” Lanjutku.
Lumayan lama aku bersama dengannya, namun aku belum dengar sakalipun suaranya. Jadi, bosan juga kalau kayak gini terus!
“Adek, Sakit? Apa sariawan? Atau sakit gigi ya?!” tanyaku mulai jenuh.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, namun senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya yang cantik itu.
“Terus, kalau ngga sakit kenapa hanya diam aja? Bisu ya?” kataku sambil memegang tangan halusnya.
Susan masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya, bingung juga aku. Cantik-cantik kok cuma bisa angguk-angguk, geleng-geleng sama senyum doang ya!
“Susan, ngomong dong! Bosan juga Abang kalau Susan kayak gini terus!” kataku sewot.
Matanya menatap mataku begitu tajam, seakan ia ingin berkata namun sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
“Iya, Bang, Abang ganteng deh....” Alamak, suaranya.
Wajahnya cantik, senyumannya aduhai manisnya, kulit tangannya begitu halus terasa, dan ... dan suaranya aduh, suaranya kenapa suaranya membuat aku ingin lari.
“Aguuuuuuuuuuuuus... awas Lo, ya, kenapa banci Lo kasih ke Gue, Asem dah Lo....” teriakku sambil mengejar-ngejar Agus yang sedari tadi ketawa melihat tingkahku.
Apesnya aku hari ini, dikerjain hidup-hidup sama si Agus. Mana sialnya lagi, aku kejar si Agus lah akunya di kejar sama itu banci sambil teriak-teriak.
“Abang Iyaaaaaaaan, jangan tinggalin Dek Susan dong....”
“Susan apanya, Susanto iya kali.”
Banda Aceh, 29/1/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar