“Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi”
Nyanyian itu selalu kudengar, dan tidak pernah ada kata bosan. Memang iya, lirik lagu itu mengingatkanku akan kisah cinta yang pernah singgah di hati ini. Cinta memang tidak pernah tahu, kapan datang dan perginya. Namun, aku bahagia karena bisa menjadi
sekelumit kisah dari mereka.
Patah hati, dikecewakan, cinta bertepuk sebelah tangan, PHP sebelum menyatakan cinta, rasanya memang tidak enak di hati. Namun, itulah yang selama ini kurasakan. Walau sekarang ada seseorang yang begitu setia menemaniku ke mana saja. Seseorang yang selalu ada di saat aku memerlukannya dan baik pastinya.
“Mas, bawa aku ke rumah sakit dong, Mas!” pintaku.
“Qila, sakit, ya? Kok ngga bilang-bilang sama, Mas!” ucapnya cemas.
“Iya, sakitnya tuh di sini…, kataku sembari menunjukkan hati ini.
“Yaelah, Qila. Kirain sakit apa,” katanya sambil menertawakanku, “makanya, move on sana.”
“Sakit, Mas!” keluhku.
“Sakit hati itu obatnya ya cari lain, La! Ngapain coba diingat-ingat yang kagak jelas gitu,” katanya sembari meninggalkanku sendiri.
Rasa sakit ini begitu menjadi-jadi. Sulit untuk dipahami, mengapa rasa sakit di hati ini begitu membunuhku. Tidak tahan rasanya begini terus, aku butuh obat untuk menyembuhkan hati ini.
Patah hati memang sudah menjadi makanan dalam kehidupan percintaanku, akan tetapi sakit yang kurasakan sekarang berbeda. Mas Iyan, pun entah ke mana perginya. Tiba-tiba saja badan ini menggigil, peluh keringan membasahi tubuhku. Rasa perih dibagian perut sebelah kiri ini begitu menyiksa.
“Mas Iyaaaaaaaaan …!” teriakku dengan begitu parau.
Ke mana perginya Mas Iyan, mengapa dia tega meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Tiba-tiba saja airmata ini membasahi pipi ini.
Di rumah kini hanya ada aku sendiri. Orang tuaku telah lama meninggal, aku tinggal berdua dengan kakakku Nisa. Namun, sekarang dia sedang bekerja. Mas Iyan, yang selalu menemani di saat kak Nisa tidak ada di rumah. Tetapi, sekarang Mas Iyan pun pergi entah ke mana.
“Qila, kenapa nangis? Mas kan cuma pergi sebentar!” ucapnya.
Kepalaku terasa berat, pandangan ini memudar tanpa cahaya. “Mas, ke mana saja. Qila sa ….”
***
Semilir angin bertiup menyapu wajahku, dan kucoba untuk membuka mata ini. Pandanganku menyelusuri di setiap sudut yang ada. Kini mataku melihat sesosok pemuda yang tidak asing bagiku sedang berbicara dengan lelaki setengah baya berbaju putih---sepertinya serius. Entah, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Aku mencoba mengingat kembali, kejadian saat di rumah tadi. Namun, nihil. Hanya, rasa sakit yang kurasakan.
“Kenapa Qila, ngga pernah bilang sama Mas,” tanya pemuda tampan itu kepadaku.
“Bilang apa, Mas? Apa kata dokter itu?” ucapku.
“Maagnya kenapa bisa jadi komplikasi gitu sih, Qila!” katanya lagi sembari menggenggam tanganku.
“Tadi … Qila, sudah ajak Mas Iyan buat ke rumah sakit. Tapi, Mas, malah menertawakan, Qila,” keluhku.
“Maagnya sudah lama kronis, dan kini sudah menjadi kanker lambung, Qila.” Ucap pemuda yang kucintai itu lesuh. Aku hanya bisa tersenyum.
“Pantesan ya, Mas, terasa sakitnya tuh di sini …,” kataku sembari tanganku kuletakkan tepat di hatiku.
TAMAT
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi”
Nyanyian itu selalu kudengar, dan tidak pernah ada kata bosan. Memang iya, lirik lagu itu mengingatkanku akan kisah cinta yang pernah singgah di hati ini. Cinta memang tidak pernah tahu, kapan datang dan perginya. Namun, aku bahagia karena bisa menjadi
sekelumit kisah dari mereka.
Patah hati, dikecewakan, cinta bertepuk sebelah tangan, PHP sebelum menyatakan cinta, rasanya memang tidak enak di hati. Namun, itulah yang selama ini kurasakan. Walau sekarang ada seseorang yang begitu setia menemaniku ke mana saja. Seseorang yang selalu ada di saat aku memerlukannya dan baik pastinya.
“Mas, bawa aku ke rumah sakit dong, Mas!” pintaku.
“Qila, sakit, ya? Kok ngga bilang-bilang sama, Mas!” ucapnya cemas.
“Iya, sakitnya tuh di sini…, kataku sembari menunjukkan hati ini.
“Yaelah, Qila. Kirain sakit apa,” katanya sambil menertawakanku, “makanya, move on sana.”
“Sakit, Mas!” keluhku.
“Sakit hati itu obatnya ya cari lain, La! Ngapain coba diingat-ingat yang kagak jelas gitu,” katanya sembari meninggalkanku sendiri.
Rasa sakit ini begitu menjadi-jadi. Sulit untuk dipahami, mengapa rasa sakit di hati ini begitu membunuhku. Tidak tahan rasanya begini terus, aku butuh obat untuk menyembuhkan hati ini.
Patah hati memang sudah menjadi makanan dalam kehidupan percintaanku, akan tetapi sakit yang kurasakan sekarang berbeda. Mas Iyan, pun entah ke mana perginya. Tiba-tiba saja badan ini menggigil, peluh keringan membasahi tubuhku. Rasa perih dibagian perut sebelah kiri ini begitu menyiksa.
“Mas Iyaaaaaaaaan …!” teriakku dengan begitu parau.
Ke mana perginya Mas Iyan, mengapa dia tega meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Tiba-tiba saja airmata ini membasahi pipi ini.
Di rumah kini hanya ada aku sendiri. Orang tuaku telah lama meninggal, aku tinggal berdua dengan kakakku Nisa. Namun, sekarang dia sedang bekerja. Mas Iyan, yang selalu menemani di saat kak Nisa tidak ada di rumah. Tetapi, sekarang Mas Iyan pun pergi entah ke mana.
“Qila, kenapa nangis? Mas kan cuma pergi sebentar!” ucapnya.
Kepalaku terasa berat, pandangan ini memudar tanpa cahaya. “Mas, ke mana saja. Qila sa ….”
***
Semilir angin bertiup menyapu wajahku, dan kucoba untuk membuka mata ini. Pandanganku menyelusuri di setiap sudut yang ada. Kini mataku melihat sesosok pemuda yang tidak asing bagiku sedang berbicara dengan lelaki setengah baya berbaju putih---sepertinya serius. Entah, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Aku mencoba mengingat kembali, kejadian saat di rumah tadi. Namun, nihil. Hanya, rasa sakit yang kurasakan.
“Kenapa Qila, ngga pernah bilang sama Mas,” tanya pemuda tampan itu kepadaku.
“Bilang apa, Mas? Apa kata dokter itu?” ucapku.
“Maagnya kenapa bisa jadi komplikasi gitu sih, Qila!” katanya lagi sembari menggenggam tanganku.
“Tadi … Qila, sudah ajak Mas Iyan buat ke rumah sakit. Tapi, Mas, malah menertawakan, Qila,” keluhku.
“Maagnya sudah lama kronis, dan kini sudah menjadi kanker lambung, Qila.” Ucap pemuda yang kucintai itu lesuh. Aku hanya bisa tersenyum.
“Pantesan ya, Mas, terasa sakitnya tuh di sini …,” kataku sembari tanganku kuletakkan tepat di hatiku.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar