Jumat, 05 Juni 2015

Kenangan Masa Lalu


Oleh: Putri N. Akhla

Awalnya dari pandangan pertama, turun ke hati dan cinta itu hadir seketika. Aku beranggapan ini adalah cinta monyet ala anak SMP. Cinta yang hanya sesaat karena tampang yang begitu rupawan. Ternyata aku salah.

Selama tiga tahun berada di ruang yang sama saat belajar di sekolah, dan selama itu juga aku memendam cinta untuknya. Rasanya begitu sulit, menahan sakit saat cemburu menghampiri. Saat tatapan beradu, malu hati ini. Walau tidak pernah saling menyapa namun satu dua kata sering terdengar. Mencoba mengalahkan rasa malu, aku mencoba untuk menyapanya duluan.

“Ridha, boleh pinjam buku catatan Bahasa?” Dengan gemetar dan hati berdebar aku mencoba bertanya.

Rabu, 03 Juni 2015

Cinta Dalam Diam

Oleh: Putri N. Akhla

Menjaga hati untuk bisa lebih baik ternyata susah juga. Bukannya lebih baik tapi malah semakin tersakiti. Ini itu bukan masalah cinta yang tidak harus memiliki. Bukan juga masalah cinta yang tidak berani untuk diungkapkan. Ini masalah hati yang belum siap untuk menerima semua apa yang akan terjadi.

Entah dari mana awalnya, tiba-tiba saja dekat dengannya dan menjadi sahabat walau hanya di dunia maya. Banyak candaan yang terkadang nyata namun dibuat-buat seakan itu hanya candaan saja. Ya, seperti ucapan suka atau sebagainya. Kata rindu pun kerap diutarakan walau terdengar lucu.

Jarak yang jauh pun menjadi salah satu penyebab hati takut untuk jujur. Mungkin dua hati bisa merasakan hal yang sama, tapi rasa takut itu mengalahkan semuanya. Kita adalah teman yang selalu mau berbagi, kau tidak segan mengutarakan kesedihan atau semacamnya kepadaku. Kedekatan kita pun menjadi suatu hal yang istimewa bagi diri ini. Tapi, entah kenapa hati ini sulit untuk jujur.

Reza dan Cintanya

"Aha, ternyata kau pandai bermain kata. Sampai-sampai aku kuwalahan menghadapi sikapmu yang lumanyan ... plin-plan itu." Mata Reza melirik sinis ke ujung sudut kanan.

Ucapan itu sebenarnya ia tujukan pada gadis di depannya. Namun, suara tawa yang sadis membuatnya melirik sinis ke arah sudut itu.

"Terserah kamu, yang jelas aku mencintaimu. Tapi, maaf aku harus pergi dari hatimu, Reza." Dhifa berlalu begitu saja selesai mengungkapkan kata yang selama ini ingin ia ucapkan.

"Aiiiiz, itu cewek kenapa pula? Bilangnya cinta, tapi malah ngajak putus." Reza berbicara seorang diri, dan terdengar lagi suara tawa yang sekarang lebih besar dari yang tadi, "kau? Kenapa ketawa? Ada yang lucu?!"