Selasa, 09 Desember 2014

Sakitnya Itu Di Sini

“Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi”

Nyanyian itu selalu kudengar, dan tidak pernah ada kata bosan. Memang iya, lirik lagu itu mengingatkanku akan kisah cinta yang pernah singgah di hati ini. Cinta memang tidak pernah tahu, kapan datang dan perginya. Namun, aku bahagia karena bisa menjadi

DUA HATI BEDA DUNIA

Pilu hati pilu jiwa
Kian lama kian duka
Kita jauh satu sama
Cita hati tahu rasa

Satu satu hati cita
Beda ardi kian lara
Sapa kaku jauh mata
Caya hati suka lupa

Ardi beda satu sama
Aral kaca lupa kini
Satu maya satu nyata
Kali temu suka hati

Satu satu hati cita
Kini nyata daku suka
Tawa hati raih cinta
Hidup sama kita berdua


B. Aceh, 8\11\2014

Selasa, 28 Oktober 2014

Pandangan Pertama

“Yan, Gue ada kenalan baru ni, cewek. Cantik banget loh, seksi lagi!” kata Agus kawanku.
“Mana, Gus!” jawabku.
“Itu...” lanjutnya sambil menunjukkan ke arah gadis yang berada tak jauh dari kami duduk. “Namanya, Susan.”
“Gila, cantik bener tuh cewek! Makan apa dia kok bisa secantik itu!” ucapku sambil tak lepas memandang sang gadis yang rupawan itu.

Sore itu, aku dan Agus seperti biasa duduk di pinggiran jalan. Sambil cuci mata,---liat cewek-cewek cantik lewat gitu---maklum tidak ada kerjaan.
Kebetulan aku saat ini lagi jomblo, jadi, ya, ngga masalah dong kalau aku deketin itu gadis! Aku yang tidak kalah gantengnya sama Dude Herlino, dengan santainya mendekati gadis itu. Hatiku sempat berdebar-debar, mana Agus ga ikutan pergi lagi! Dengan percaya dirinya aku mendekati sang gadis. Garis senyumnya, amboi... manisnya.

Minggu, 26 Oktober 2014

Hanya Hati

Cemburu. Cemburu itu terkadang membuatku gila. Dia dengan seenaknya bersua ria bersama mereka, tanpa pernah tahu akan perasaanku padanya. Mata melirik, telinga mendengar. Suara tertahan bagaikan batu yang tak bisa bersua. Hati ini sakit tertahan. Begitu banyak teriakkan yang tak pernah terdengar---hati berbicara, hati menangis. Hanya hati. Ya, hanya hati.


Gila sudah aku ini, menyimpan semua duka yang hanya di hati. Aksaraku pun tak ada arti, walau telah beribu-ribu kata terukir hanya untuknya. Ah, sialnya aku. Sudah lidah ini kaku. Aksara pun tak mampu membuatnya melirik kepadaku. Gila sudah aku. Cinta. Rindu. Cemburu. Itu semua hanya menjadikan hatiku berteriak tak ada arti. Tangisan pun tak 'kan nampak dari diriku---karena aku selalu tersenyum manis untuknya.

B. Aceh, 251014

Aku dan Kamu



Aku dan kamu begitu dekat
Sedekat kertas putih dan pena
Aku semakin terpikat
Di kala kau menyapa dengan indahnya aksara

Aku dan kamu begitu dekat
Sedekat mentari dan awan yang berarak
Aku semakin terperanjat
Di kala kau memberiku lingkaran kecil berlapiskan perak

Kini, aku dan kamu semakin dekat
Di kala ijab kabul telah terucap
Aku semakin  berharap
Agar cinta kita terus saja terikat



Banda Aceh, 26102014 

Jumat, 24 Oktober 2014

Akan Kembali Lagi

Lembayung senja begitu indah
Jingganya sangat menawan
Hati resah memanglah gundah
Mengingat kisah penuh akan kenangan

Senja hilang menggantikan malam
Malam kelam tanpa bebintang
Rinduku semakin mendalam
Namun, sayang penawarnya tak kunjung datang

Rindu-rindu si putih salju
Akankah meleleh saat mentari menyapu
Begitu besarnya cintaku kepadamu
Tak mampukah kau menghargaiku

Walau 'ku tahu cintamu semu
Aku akan tetap setia menunggu
Senja itu akan kembali lagi
Dan aku dapat memandang jingga kembali


By: Triena Akasara, 221014

Minggu, 19 Oktober 2014

Sang Perindu



Aku adalah sang perindu
Rinduku hanya untukmu
Dirimu yang telah mencuri hatiku
Hatiku yang pernah kau rayu
Rayuanmu mampu menghanyutkanku
Hanyut bagaikan terbang ke langit ketujuh

Aku adalah sang perindu
Rinduku hanya untukmu
Dirimu yang kini telah menjauh
jauh sejauh dunia nyataku bersamamu

Aku adalah sang perindu
Rinduku kepadamu kini t’lah membuatku sendu
Sendu hanya karena kita tak mampu bertemu
Bertemu denganmu yang hanya di dunia selalu
Dan itu selalu membuatku jemu

Aku adalah sang perindu
Rinduku selalu untukmu
Walaupun aku tahu
Dirimu tak pernah ada untukku



Banda Aceh, 20 Juni 2014

Jumat, 10 Oktober 2014

TRIENA*




Tiada kisah yang  bisa kulupakan
Rindu itu terus saja mengingatkan
Ingin rasanya aku melupakan
Entah bagaimana caranya akan kulakukan
Namun, apadaya hatiku telah hancur oleh kenangan
Andai saja waktu itu aku tak kautinggalkan


B. Aceh, 9-10-2014

Jumat, 19 September 2014

Bimbang Tak Henti

Warna warni cahaya pelangi
Indah dipandang sejukkan hati
Dikau datang terus pergi
Membuat daku bimbang tak henti

Pelangi hadir bila hujan datang
Hujan turun lebat membasahi
Hatiku sedih penuh bimbang
Menunggu dikau yang tak pernah kembali

Pelangi hilang ditelan awan
Hati bimbang tak karuan
Dikau pergi tinggalkan kenangan
Kenangan indah sulit untuk dilupakan

B. Aceh, 9-9-2014 Triena Aksara

Virus

Virus itu tiba-tiba saja menghampiriku
Mencoba menggorogoti syarafku
Dan terus menjalar ke seluruh pembuluh darahku
Mencari-cari letak hatiku yang hanya satu

Virus itu terus saja bermain-main di dalam tubuhku
Lebih tepatnya lagi di hatiku
Aku tak tahu virus apa itu Ingin rasanya aku tahu
Virus apa yang sedang bersemanyam di hatiku

Ah apakah itu si virus merah jambu
Yang mampu menghanyutkan seluruh isi hatiku
Oh... tidak. Aku tak ingin itu
Cukup sudah kau menggorogoti tubuhku

Tak cukupkah kau sakiti hatiku
Hei... virus merah jambu
Enyahlah kau dari jiwaku
Lelah sudah aku menghadapimu

Tak sayangkah kau padaku
Andai kau mampu menjadi penawar hidupku
Aku rela kau bersemanyam di hatiku

Banda Aceh, 21-08-2014

♡ Penaku ♡

Penaku menari-nari
Di atas pentas kertas putih
Aksara indah menghampiri
Menjadi bait yang penuh akan arti

Penaku tak mau berhenti
Terus saja menari di atas pentas kertas ini
Bait demi bait pun tercipta rapi
Dengan indahnya aksara yang tulus dari hati

Penaku terus saja menari-nari
Tak ada kata lelah dari hati
Syair-syair terukir menjadi saksi
Menghadirkan senyuman penuh arti

B. Aceh, 10-9-2014 Triena Aksara

Kamis, 20 Maret 2014

Biarkan Saja Begini

Hampa kini kurasakan
Tanpa ada pelita cinta di jiwa
Rasa rindu yang untuk siapa kuberikan
Kini hanya menjadi hayalan semata

Cinta yang telah lama sirna di hati
Entah kapan akan kembali
Mengiasi hari-hariku yang sepi
Tanpa ada yang menemani

Kini rasa lelah telah hadir di hati
Untuk menanti sang pujaan hati
Hanya ingin seorang diri
Tanpa ada cinta lagi

Menanti aku lelah menanti
Biarkan saja begini
Tatkala cinta kembali
Aku akan tersenyum di hati



Banda Aceh, 18/3/2014

Rabu, 12 Maret 2014

Inilah Takdirku

Cintaku untukmu bagaikan beningnya permata, yang selalu memancarkan kilauan asmara membuat hatiku tak mampu melupakanmu. Malam-malamku selalu dihiasi akan bayanganmu: cantik, manis, berambut panjang yang menawan.
“Aku harus memilikimu,” batinku. Hari-hariku selalu mencari tahu tentangmu, sampai akhirnya aku tahu siapa namamu, Nada Naqilla.
Rasa rindu yang amat kejam telah menyayat hatiku, darah amarah kini telah mengalir bak air bah menghantam ribuan rumah.
“Inikah arti cintaku kepadanya? Yang hanya mampu dibalas dengan bisu semata? Aku harus memilikimu, Nada! Harus....!” jeritku dalam kalbu.

Minggu, 02 Maret 2014

:: Aku Tak Mampu ::

Sulit untuk kupahami
Rasa cinta yang datang begitu saja dari hati
Begitu saja tanpa kusadari
Kini cinta telah bersemanyam di hati ini

Cinta ini begitu tulus dari hatiku
Namun kenapa aku hanya mampu memendamnya
Aku tak mampu mengungkapkannya
Tolong aku, lihatlah perasaanku dengan mata hatimu

Aku hanya ingin kau tahu
Betapa tulusnya cintaku
Namun aku tak mampu
Tak mampu untuk mengatakannya padamu

Kini aku terpuruk dalam sepi
Sepi akan cinta yang tak mampu kudapati
Cinta yang hadir begitu saja dari hati
Haruskah aku simpan sampai mati?

Begitu berat rasanya
Menahan rasa cinta di dalam kalbu
Namun inilah aku
Yang hanya mampu memendam cinta


Banda Aceh, 14/2/2014

Sabtu, 08 Februari 2014

Malu-malu Aku Pemalu

Tidak sengaja aku bertemu
Sang bidadari menggugah kalbu
Menarik hati penuh syahdu
Membuat aku rindu selalu

Wajah ayu memukau jiwaku
Saat pandangan pertama kepadamu
Cinta hadir membawa rindu
Karena aku malu padamu

Rindu hatiku kian menggebu
Hasrat cintaku terkurung malu
Hanya rasa tersimpan pilu
Kini hatiku berujung sendu

Malu-malu aku pemalu
Cinta hadir dalam jiwaku
Sang bidadari yang menghadirkan rindu
Kini telah bersanding penuh haru

Jumat, 31 Januari 2014

Pelangi Sore Itu



Minggu pagi, saat aku mebuka jendela kamarku udara sejuk menghampiri diriku. Hembusan angin pagi terasa begitu dingin hari ini, kulihat pepohonan masih basah karena hujan semalam. Walau sekarang bulan januari, tetapi hujan masih saja turun membasahi bumi.

Mentari dengan indahnya menyinari bumi, sepertinya hari ini alam akan cerah---mudah-mudahan saja. Aku yang sedari tadi sudah bangun ingin keluar untuk menghirup udara yang segar. Pagi ini begitu indah untuk dilewatkan. Kulalui jalan setapak yang ada di depan rumahku. Hari masih terlalu pagi ternyata, namun cerahnya cahaya mentari telah mampu untuk aku melihat sekelilingku.

Bunga di taman rumah tetanggaku begitu indah, sepertinya baru mekar! Harum mewanginya pun terhirup lembut olehku. Kumbang-kumbang dengan asiknya merayu bunga di kala itu. Ah, bunga itu membuatku iri. Aku hanya jalan seorang diri pagi ini, biasanya ditemani Laras adikku.

“Hai, cantik... sendiri aja ni! Adik imutnya mana?” tiba-tiba suara yang hadir dari belakangku mengagetkanku.
“Eh, Abang Iyan, masih tidur dia Bang!” jawabku semabri memberi sekulimut senyum kepada Bang Iyan tetanggaku.